(thoughtful) Oleh: Gede Prama
Satu hal fundamental yang membedakan hidup di negara berkembang seperti kita,dan hidup di negara welfare state adalah perhatian terhadap kaum tidak punya. Perhatian mereka terhadap kesejahteraan rakyat amatlah besar.
Oleh karena itulah, maka banyak negara berlomba-lomba berpacu menuju welfare state. Tidak hanya negara, individupun sangat banyak yang mengejar kesejahteraan. Kerja keras, sekolah setinggi-tingginya, tekun dan loyal terhadap pekerjaan, hanya sebagian saja dari usaha untuk mencapai kesejahteraan hidup. Demikian penting kesejahteraan terakhir, sampai-sampai ada orang yang mau mencapainya dengan segala cara.
Digabung menjadi satu, baik negara maupun individu, banyak yang teramat rindu dengan kesejahteraan. Sayangnya, tidak sedikit orang yang masih terjebak dengan perangkap 'umum' kesejahteraan. Kesejahteraan, dalam perangkap terakhir,berhubungan amat dekat dengan gunungan materi yang kita miliki. Namun, karena gunungan materi sering tidak mengenal kata cukup, maka mengejar kesejahteraan kerap seperti mengejar cakrawala.
Dalam perspektif ini, saya berutang banyak pada Shakti Gawain - penulis buku Creating True Prosperity. Penulis jernih dan produktif ini, di salah satu bagian dari buku tadi menulis: 'Prosperity is an internal experience, not an external state. It is an experience separate from having a certain amount of money.
While prosperity is related to money, it is not caused by money.' Dengan kata lain, kesejahteraan sebenarnya lebih terkait dengan pengalaman internal. Sebuah pengalaman yang terpisah dari kepemilikan uang. Ia memang berkaitan dengan uang,namun tidak disebabkan oleh uang.
Argumen terakhir, sebenarnya tidak orisinil, namun amat mendasar. Secara lebih khusus dengan menyebut kesejahteraan sebagai pengalaman internal, dan keterkaitan persisnya dengan uang. Dalam pengertian saya, ada dua hal yang perlu dicermati dalam hal ini: pengalaman internal dan reposisi uang dalam kehidupan.
Mari kita mulai dengan pengalaman internal. Sejak zaman Mahabrata sudah diajarkan, bahwa badan kita sebenarnya ibarat lapangan peperangan. Dimanapun,kapanpun dan dengan siapapun, peperangan di dalam diri senantiasa terjadi.
Kadang stimulusnya datang dari luar, kerap datang dari dalam. Tidak pernah ada tubuh manusia yang absen dan bersih dari peperangan. Ia bersifat given. Bedanya,ada orang yang mengelola peperangan tadi, ada orang yang dikelola oleh peperangan.
Berkaitan dengan pengalaman internal yang disebut Gawain di atas,pengelola-pengelola peperangan dalam diri, lebih mungkin sampai pada tataran hidup sejahtera selamanya. Sedangkan mereka yang membiarkan dirnya dikelola peperangan, amat sulit untuk sampai pada tataran sejahtera.
Bagaimana bisa sejahtera, kalau nafsu, ego, keserakahan, dan keinginan lari kencang tanpa rem. Berapapun jumlah materi yang kita miliki, ia akan tetap terasa kurang.
Untuk itulah, kita memerlukan seorang manajer dalam diri kita. Secara lebih khusus yang bisa mempengaruhi struktur kerja fikiran. Pekerjaan manajer tadi,menjaga jangan sampai ego, nafsu dan keinginan lari liar tanpa kendali, dan menetralisir setiap kekuatan untuk kembali pada posisi seimbang.
Kearifan,kedewasaan dan spiritualitas adalah sebagian kekuatan yang bisa digunakan manajer tadi, dalam menetralisir hawa nafsu. Berkaitan dengan reposisi uang dalam kehidupan, sudah saatnya kita kembali ke fungsi uang yang mendasar.
Sebagai sarana kehidupan, uang memang mengenal batas. Namun sebagai sarana pemuas ego, uang tidak pernah mengenal batas cukup. Untuk itu, penting sekali buat setiap orang, untuk memisahkan antara kedua posisi uang terakhir.
Mungkin saja kedengaran idealis, namun menjebak diri ke dalam posisi uang sebagai pemuas ego, sama saja menggali kuburan buat kehidupan sendiri, untuk kemudian masuk ke situ tanpa disadari. Coba renungkan secara mendalam, seberapa banyak yang betul-betul kita butuhkan untuk hidup sehat, untuk sekolah anak-anak, atau hidup aman?
Bukankah jumlahnya bisa dihitung secara amat rasional? Akan tetapi, bisakah Anda menghitung jumlah uang yang cukup untuk memuaskan semua ego ? Dihitung saja tidak bisa, apa lagi dipuaskan.
Makanya, saya tidak heran ketika mengetahui bahwa Gawain menulis: 'Although no amount of wealth can guarantee prosperity, it is possible to experience prosperity at almost any level of income.'
Hanya saja ada dua hal yang kurang diperhitungkan Gawain, kesejahteraan bisa hadir di setiap tingkatan penghasilan,bila orang memiliki manajer fikiran, serta berhasil kembali ke fungsi dasar uang sebagai sarana kehidupan.
Tidak mudah tentunya. Dan kesempurnaan hidup seperti kesejahteraan, memang senantiasa bersembunyi di balik banyak hal yang tidak mudah. Persis seperti apa yang disarankan Gawain: 'True prosperity is not something we create overnight.
It is not a fixed goal, a place where we finally arrive, or a certain state that we will some day achieve. It is an ongoing process that can continue to unfold and deepen throughout our lives.'
Seorang guru yang saya tahu hidup sejahtera selamanya, pernah bertutur, ketika uang ada ia akan menikmati secukupnya, ketika uang tidak ada ia akan mendalami spiritualitas. Dengan penuh keyakinan ia bertutur ke saya: 'Kehidupan tidak bisa mendikte saya, sayalah yang mendikte kehidupan.' Sudahkah Anda sampai di sana?
Fatin Shidqia Lubis - Aku Memilih Setia
12 years ago
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback