(Diadaptasi dari: Saul W. Gellerman, Managers and Subordinates)
Upah yang kita kenal sekarang adalah penemuan yang agak baru, digunakan kira-kira 150 tahun lalu atau sekitar permulaan revolusi industri. Sebenarnya, dalam hampir sebagian sejarahnya, manusia umumnya hidup, bekerja dan meninggal tanpa upah, atau paling tidak dalam bentuk uang. Namun, cukup aneh bila kita membaca berita-berita pers mengenai sengketa industri, ternyata semua keributan itu hanya mengenai upah - suatu yang hanya terjadi di beberapa saat terakhir sejarah manusia.
Penggunaan uang sebagai motivator dan alat untuk menyelesaikan masalah ketenagakerjaan dimulai pada permulaan abad ke-19. Hal ini tak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi, terutama penemuan mesin tenun bertenaga mesin, yang menuntut hampir seluruh perhatian pekerja pabrik selama berjam-jam setiap hari.
Masalah yang muncul adalah bagaimana membujuk banyak orang untuk mau bekerja berjam-jam dalam pabrik tenun baru yang besar-besar itu. Padahal waktu itu, bekerja di pabrik dalam jam kerja yang panjang belum lumrah. Selain itu, bekerja di pabrik akan mengorbankan waktu pekerjanya untuk melakukan hal-hal lain, seperti bertani, memberi makan untuk keluarga, mengurus ternak, atau membuat kerajinan tangan dan perlengkapan sehari-hari.
Jika kita menganggap uang sebagai alat penyelesaian yang wajar, maka itu disebabkan karena kita sudah terbiasa hidup dengan upah. Pada awal abad ke-19, uang bukan merupakan jawaban yang wajar. Uang digunakan untuk menyelesaikan perhitungan atau mengadakan barter antara pedagang-pedagang. Atau, bagi orang kaya digunakan untuk menyimpan kekayaannya secara mudah. Tetapi kebanyakan orang tidak pernah melihat uang, dan dapat hidup tanpa uang.
Lalu muncullah sebuah kesadaran dan pemikiran kreatif yang amat besar artinya: uang yang diberikan sedikit demi sedikit pada waktu-waktu tertentu akan memungkinkan para pekerja membeli sarana bagi kelangsungan hidup mereka, dan dengan demikian memotivasi mereka untuk bekerja. Kemudian, seorang jenius manajerial yang tak dikenal, mungkin seorang pengawas penggilingan di Inggris Tengah, menciptakan sebuah sistem yang disebut upah. Dan, sejak itu upah kita pakai hingga sekarang.
Upah sebagai kekuatan untuk memotivasi selalu mempunyai reputasi dan nama baik, dan memang sudah selayaknya begitu. Walaupun tidak benar sama sekali bahwa "semua" orang akan berbuat apa saja untuk meningkatkan pendapatan uang mereka, namun selama bertahun-tahun terbukti bahwa hampir semua orang akan berbuat apa saja untuk mencegah agar sumber pendapatan mereka tidak diambil orang lain.
Rasa takut kehilangan pekerjaan (sebagai sumber uang) merupakan motivator kerja yang sangat efektif karena uang sungguh-sungguh diperlukan bagi kelangsungan hidup dalam suatu ekonomi uang. Untuk segala macam kegunaan uang dapat disamakan dengan kelangsungan hidup. Dengan demikian uang telah dihubungkan dengan naluri yang paling fundamental dan mungkin paling kuat di antara naluri-naluri biologis lain. Maka tidak mengherankan bahwa upah telah mengembangkan reputasinya sebagai motivator yang hebat!
Tetapi sekarang menjadi jelas bahwa kemampuan yang hampir universal dari upah untuk memotivasi itu tahan terhadap keadaan yang tidak menyenangkan dan menunjukkan keampuhannya selama bertahun-tahun. Kehebatan itu semakin membesar ketika memasuki masa sejarah industrialisasi sampai kira-kira awal perubahan kedua abad ke-20. Pendek kata, uang memberikan motivasi paling kuat bila tidak ada cukup uang untuk menjamin kelangsungan hidup atau tingkat kehidupan yang layak.
Sekali daya beli dan pendapatan naik mencapai tingkat yang lebih tinggi dari keperluan - seperti yang terjadi pada tahun 50-an di beberapa negara tertentu - maka kekuatan uang untuk memberikan motivasi mengalami perubahan yang besar sekali.
Kalau ada orang yang tidak lagi menganggap uang sebagai sesuatu yang sangat diperlukan bagi kelangsungan hidup, dan malah kurang lebih merupakan konsumen yang "berkelebihan" yang menganggap membelanjakan uang bukan masalah yang penting, maka arti uang berubah dalam dua cara penting berikut ini.
1--Pertama, bagi kebanyakan orang (tetapi tidak semua), uang berubah menjadi kebutuhan lain. Perlu ditekankan di sini bahwa jarang sekali uang menjadi sungguh-sungguh tidak penting. Bagi kebanyakan orang, dalam kasus ini, uang hanya menjadi tidak begitu penting. Ini berarti, kebutuhan lain, yang sebelumnya dikorbankan demi pemeliharaan atau peningkatan pendapatan, sekarang cenderung lebih diutamakan daripada upah. Misal, kebutuhan akan waktu senggang, dan kebutuhan akan pekerjaan yang berarti.
2--Kedua, uang berubah dari motivator yang relatif sederhana menjadi motivator yang sangat rumit. Hal ini disebabkan karena kelangsungan hidup pada dasarnya mempunyai arti yang sama bagi setiap orang - yaitu kesinambungan pengalaman, peluang dan tanggung jawab - tetapi sekali kebutuhan hidup tejamin, maka setumpuk tanggung jawab yang sangat berbeda-beda di antara masing-masing orang, cenderung muncul.
Maka, bagi orang yang baru masuk kalangan "the haves", uang mungkin berarti keamanan; bagi orang lain mungkin berarti suatu peluang untuk mengadakan investasi dan menjadi lebih kaya; dan bagi orang lain lagi, uang mungkin berarti kebebasan. Singkatnya, kemampuan kita untuk meramalkan bagaimana seseorang atau kelompok tertentu akan bereaksi terhadap upah sangat berkurang setelah upah itu mencapai tingkat di atas nafkah hidup.
Mungkin ada beberapa penyamarataan. Bila pendapatan tidak hanya naik di atas tingkat "kelangsungan hidup" tetapi juga di atas tingkat "standard kehidupan yang layak", maka cenderung akan menghasilkan dua pengaruh perilaku yang kurang lebih dapat diramalkan.
Satu pengaruh upah yang rupanya berlaku bagi semua tingkat pendapatan adalah pengaruh terhadap kesediaan orang untuk melamar dan menerima pekerjaan dalam suatu perusahaan dan tetap bekerja untuk perusahaan itu. Hal ini mencerminkan bagaimana kemampuan suatu perusahaan untuk melengkapi dirinya dengan bakat yang dibutuhkan untuk menjalankan operasinya.
Maka, upah (termasuk pula hal-hal yang sama dengan upah, semisal, tunjangan) adalah alat utama perusahaan untuk menarik tenaga kerja, bersaing dengan perusahaan lain, melakukan seleksi terhadap calon-calon karyawan yang mampu dipekerjakan dengan harga yang mereka setujui.
Jadi, dalam istilah ekonomi, upah adalah suatu harga. Tegasnya, upah adalah harga untuk bakat atau kemampuan yang diperlukan oleh perusahaan. Upah memiliki kemampuan untuk menyalurkan ornag-orang dengan watak, tujuan, dan nilai yang berbeda-beda di antara pekerjaan yang bersaing.
Jadi, kalau pengusaha berbicara tentang "motivasi" dan "upah" seolah-olah keduanya dapat saling dipertukarkan,ini diakibatkan karena perilaku yang mereka maksudkan hanyalah menerima tawaran kerja. Ini memang merupakan syarat penting, tetapi tidak dengan sendirinya mencukupi untuk menggunakan bakat dan kemampuan karyawan itu secara produktif. Dengan kata lain, menyamakan motivasi dengan upah berarti memandang motivasi itu dengan cara yang sempit dan tidak praktis.
Sudah jelas bahwa kita perlu memberikan motivasi kepada orang-orang untuk tidak hanya menerima suatu tawaran pekerjaan saja. Kita juga perlu memberikan motivasi kepada mereka untuk bekerja dengan rajin, tepat, dan mau bekerjasama. Secara tradisional ada anggapan bahwa upah, jika diberikan kemasan yang tepat, akan memberikan hasil yang diinginkan dalam kerja.
Padahal ada pihak lain (misal; serikat pekerja) yang memandang bahwa "kemasan" itu hanyalah soal bagaimana membayarkannya dalam jumlah yang besar. Ada orang lain juga yang beranggapan bahwa jaminan untuk menerima pendapatan terus-menerus di masa depan akan membuat semua persoalan beres.
Ada orang lain lagi yang lebih senang mengukur upah dengan prestasi kerja. Tetapi dalam prakteknya, upah tidak selalu mengikuti aturan-aturan yang masuk akal. Dengan beberapa perkecualian, satu- satunya pengaruh positif yang konsekuen dari upah adalah bahwa upah memberikan motivasi bagi pekerja untuk masuk dan bekerja dalam perusahaan tertentu.
Perkecualian itu adalah bilamana pekerjaan dari usaha individual secara langsung dan sepenuhnya bertanggungjawab pada hasil yang dibayar, atau bilamana tambahan upah bersih sebagai akibat usaha demikian itu relatif besar dibandingkan upah tanpa usaha demikian itu, atau bilamana upah seluruhnya
adalah besar.
Dalam organisasi yang besar, dimana pekerjaan sangat terspesialisasi, kebanyakan pekerjaan dilaksanakan oleh kelompok-kelompok, dan upah pada hakekatnya ditentukan oleh anggaran dan praktek upah bersaing, keadaan demikian itu jarang ada.
Maka kombinasi penghasilan yang meningkat di atas tigkat minimum dan kecenderungan yang semakin besar terhadap pekerjaan yang dilaksanakan dalam organisasi besar, telah mengurangi secara efektif kemampuan upah untuk memberikan motivasi lebih daripada kesediaan orang untuk bergabung dan bekerja pada suatu perusahaan.
Tetapi, kita telah lihat bahwa upah mempunyai dua pengaruh perilaku. Pengaruh kesediaan orang untuk bekerja adalah pengaruh yang positif, dalam arti menguntungkan organisasi; dan juga pengaruh yang paling luas, yang mempengaruhi orang-orang pada semua tingkat pendapatan.
Pengaruh yang kedua adalah negatif, dari sudut pandang organiasi, dan cenderung terbatas hanya pada orang-orang yang pendapatannya tidak lebih tinggi dari tingkat "standard kehidupan yang layak" (suatu kelompok besar) dan, yang cenderung menganggap upah mereka sebagai tidak adil (suatu kelompok yang berubah-ubah ukurannya).
Barangkali yang paling umum di antara berbagai macam reaksi upah, setelah upah melampaui tingkat minimum, ialah anggapan bahwa upah adalah suatu ukuran keadilan. Di sini melibatkan jauh lebih banyak daripada hanya perbandingan kasar sedikit orang yang cukup perhatian untuk mengungkapkan dengan kata-kata "keadilan" menurut pengertian mereka, kita dapat mengambil kesimpulan mengenai hal ini dari perilaku mereka.
Kebanyakan orang rupanya ingin diberi upah sedemikian rupa sehingga nilai yang mereka berikan kepada pengusaha diimbangi dengan nilai yang mereka terima. Dengan demikian, keadilan menurut kebanyakan pekerja adalah perbandingan antara apa yang diberikan dengan apa yang diterima, yang diduga dialami juga oleh orang lain. Maka, kebanyakan orang tidak ingin mennerima upah yang sama dengan upah orang lain, tetapi ingin menerima harga (rasio/perbandingan) yang sama dengan orang lain untuk pekerjaan mereka.
Yang menarik ialah bahwa pengaruh perilaku dari upah yang dirasa adil adalah nol. Jika menerima apa yng ingin mereka terima, mereka puas secara subyektif, tetapi tidak ada pengaruh obyektif yang dapat dilihat terhadap perilaku mereka.
Tentu saja, mereka bekerja berdasarkan tingkat usaha dan kerja sama tertentu; tetapi jika mereka merasa bahwa upah mereka adil, tingkat ini sama sekali adalah hasil motivator bukan uang berapa pun banyaknya.
Keadilan yang dirasakan menetralisasi daya memotivasi dari upah, dengan membiarkan bidang itu terbuka bagi faktor-faktor seperti perhatian terhadap pekerjaan, hubungan dengan rekan atau dengan atasan, dan kondisi keja fisik.
Tetapi, jika upah dirasakan sebagai tidak adil - jika nilai yang diberikan seolah-olah lebih tinggi daripada nilai yang diterima, atau jika orang lain seolah-olah menerima harga lebih tinggi dari apa yang mereka berikan - terciptalah suatu keadaan psikologis yang menyedihkan. Jika keadaan itu terus berlangsung atau menjadi buruk, motivator baru - yang sampai ke sekarang ini tidak penting atau diam saja - tampil ke depan.
Orang itu mungkin mulai merasa bahwa ia diperas tenaganya, bahwa martabat, kebanggaan, dan harga dirinya diserang. Jika keadaan itu tidak diperbaiki, lambat laun orang itu akan mempunyai motivasi untuk mengambil tindakan keluar dari kesulitan itu.
Tetapi, pilihannya terbatas. Orang hanya bisa mengeluh dan minta kenaikan gaji, atau keluar dan mencoba mencari keberuntungan di lain tempat. Keduanya belum tentu efektif, dan memerlukan keberanian. Maka, ini bukan merupakan alternative yang disukai. Alternatif ketiga - yang paling umum - ialah mengurangi usaha. Upah yang dirasakan tidak adil kemungkinan besar akan memotivasi perilaku untuk mengurangi produktivitas secara efektif.
Jadi, upah memotivasi perilaku hampir setiap orang; memotivasi pengurangan produktivitas dalam keadaan tertentu, dan di luar itu tidak banyak memotivasi orang dalam hal apa pun. Bukan sesuatu yang sangat mengesankan bahwa upah pernah menjadi motivator kuat, tetapi sayang, itulah yang terjadi selama satu setengah abad.
( editor rekan-kantor.com)
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback