Pages

Saturday, July 25, 2009

Saya takut akan hal yang lain

(thoughtful story) (Masa Perang Saudara 475 S.M sampai 221 S.M)

Pada masa perang saudara, Cina tak dapat dielakkan lagi terbagi menjadi beberapa daerah yang secara politis berdiri sendiri. Daerah tersebut sering terlibat dalam perang antara yang satu dengan yang lain.

Di sela-sela konflik militer,para diplomat dan politikus berusaha untuk membuat persekutuan dan perjanjian. Pada masa-masa tersebut, menandatangani suatu perjanjian yang disusun dengan baik sama pentingnya dengan memenangkan sebuah perang.

Di sebuah negeri yang berukuran sedang, seorang komisaris cakap bernama Lin Shan Lu, karena penampilannya yang luar biasa di sebuah misi diplomatik belum lama berselang, secara tidak lazim dipromosikan menjadi seorang perdana menteri.

Mendengar kabar ini, menteri pertahanan, seorang jendral veteran yang tua, Lin Poo, yang telah terlibat dalam banyak pertempuran selama tiga puluh tahun terakhir, merasa kecewa dengan kenaikan pangkat yang cepat ini.

"Persetan! Saya telah mempertaruhkan nyawa saya dalam perang selama bertahun-tahun untuk menjadi seperti sekarang ini," gerutu si menteri pertahanan. "Orang baru bodoh itu hanya menggunakan lidah manisnya dan melampauiku! Ini benar-benar keterlaluan. Saya harus mempermalukannya di depan umum."

Mendengar hal ini, si perdana menteri yang baru itu sengaja menghindari jenderal yang keras kepala tersebut. Menurut desas desus yang beredar, perdana menteri adalah seorang pengecut dan takut berhadapan langsung dengan si jenderal tua. Disebuah pesta pribadi, beberapa orang asisten dekatnya dengan dongkol menanyakan alasan-alasannya.

"Tuan-tuan, ijinkan saya untuk menjelaskan hal ini untuk anda semua," perdana menteri itu dengan tenang menjelaskan. "Apakah jendral ini dalam satu atau lain hal dapat dibandingkan dengan King Chin yang bertemperamen tinggi, seorang raja yang paling kuat dan tetangga sebelah barat kita?"

Para pendengarnya setuju bahwa seorang jenderal jelas-jelas tidak sebanding dengan seorang raja.

"Namun di dalam pertemuan kita yang terakhir," si perdana menteri melanjutkan,"saya mempermalukan raja yang kasar dan beritikad buruk ini di hadapan beberapa ribu pengawalnya yang bersenjata lengkap. Sesungguhnya, saya tidak takut terhadap siapa pun.

Bagaimanapun, di negeri kita, ada faktor-faktor lain yang harus saya perhitungkan. Tetangga sebelah barat kita yang suka berperang selalu ingin menaklukkan kita, tetapi karena kemampuan si jenderal dan kebijaksanaan saya, mereka tidak berani menempuh resiko dengan menyerang kita.

Namun, jika si jenderal dan saya saling bertengkar sendiri, masa depan negara kita pasti akan hancur. Untuk alasan inilah saya mengalah, dan tidak akan menghadapi jenderal yang terhormat dan cakap ini. Ini semua demi ketenteraman rakyat dan Negara kita, bukan demi reputasi saya."

Semua pendengar menyetujui dan mengangguk-anggukkan kepala mereka karena betul-betul terkesan akan penalaran si perdana menteri. Menyadari hal ini, si jenderal merasa sangat menyesal akan perhatiannya yang kurang dan wawasannya yang sempit.

Dengan malu dan menyesal, ia secara rendah hati mengunjungi perdana menteri muda ini dan dengan sopan meminta maaf yang segera diberikan. Setelah insiden itu, kedua orang tersebut saling bekerja sama dengan baik dan akhirnya menjadi sahabat karib. Semasa hidup mereka, tetangga sebelah barat mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk menaklukkan negara ini.

Pada masa bergejolak, terutama bagi sebuah negeri kecil yang terletak di antara kekuatan-kekuatan besar, persatuan di dalam kawasan amatlah penting – Bersatu mereka akan berhasil, bercerai mereka akan gagal. Seorang yang cakap selalu harus mempertimbangkan segala faktor, tidak hanya reputasinya sendiri.

(from Wisdom's way by Walton C.Lee)
______________________________________________________________________________
You can at any time decide to alter the course of your life.
No one can take that away from you.
You can do what you want to do. You can be who you want to be.

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback