Pages

Monday, July 27, 2009

KEBAHAGIAAN

(motivation)

Kebahagiaan adalah tidak adanya ketidak-bahagiaan. Ketidak-bahagiaan adalah keadaan di mana hadir kekhawatiran dan atau ketakutan. Dengan demikian kita bisa disebut berbahagia bila kita bisa terlepas dari rasa khawatir atau rasa takut. Dan ternyata memang benar, tidak mungkin seseorang bisa menyebut dirinya berbahagia, bila kualitas hidupnya terlukai oleh hadirnya rasa khawatir atau rasa takut.

Rasa khawatir adalah bibit dari rasa takut. Dan rasa khawatir yang tidak dikelola dengan baik akan tumbuh menjadi sebuah ketakutan, yang kemampuan merusaknya jauh lebih besar dari rasa khawatir.

Bagaimana caranya kita merusak kualitas hidup kita dengan rasa khawatir? Mudah. Dan sebetulnya telah banyak kita lakukan, yaitu dengan tidak melakukan apapun untuk mengatasi penyebab rasa khawatir itu.

Lalu, apakah semua upaya untuk mengelola rasa khawatir dan takut itu akan menghilangkan penyebab timbulnya perasaan-perasaan itu? Belum tentu. Memang ada hal-hal yang berada di luar kemampuan terbaik kita. Dan untuk hal-hal itu kita hanya diminta untuk bisa menerima dengan baik, dan menyerahkannya kepada Pemilik Hidup ini.

Itu sebabnya ada doa untuk keadaan seperti itu, Yang Maha Pengasih, berilah aku kekuatan untuk menyelesaikan hal-hal yang bisa aku selesaikan, berilah aku kelapangan hati untuk menerima hal-hal yang tidak bisa aku selesaikan,dan berilah aku kebijakan untuk dapat membedakan antara keduanya.

Hidup ini demikian penuh dengan alasan untuk merasa khawatir dan merasa takut, sehingga bila suatu hari kita mendapati hati ini terbebas dari rasa khawatir, sama sekali tidak merasa khawatir, ... justru itu-lah saat untuk mulai merasa khawatir.

Kedengarannya sebagai sebuah double-standard, karena kenyataan yang satu membatalkan yang lain. Sebetulnya tidak. Yang dari luar tampak sebagai sebuah standar ganda,sebetulnya lebih sering berupa pengamatan tentang dua titik ekstrim dari sebuah kontinum. Seperti, membalas atas kejahatan orang kepada kita itu dibenarkan, tetapi akan lebih baik bagi kita apabila kita memaafkan.

Dalam peliknya kehidupan bisnis dan profesional seperti saat ini, akan sangat aneh mendengar orang meregangkan tangannya dan berkata lantang, "Aaah ..., sudah tidak ada lagi yang bisa saya khawatirkan! Saya sudah sangat tenang, sangat berbahagia, dan tidak merasa perlu mengkhawatirkan apapun!" Itu, baru aneh.

Akan selalu ada hal yang berubah dari keadaannya sekarang. Dari sesuatu yang tidak menjadi masalah, bisa berubah menjadi sebuah sumber masalah yang sangat besar. Itu sebabnya kita harus berhati-hati menjaga hal-hal yang sekarang memberikan kebaikan kepada kita, baik itu benda, modal, hubungan baik dengan orang lain, atau sebuah sumber pendapatan bagi kehidupan kita.

Tanpa perawatan, sesuatu yang baik belum tentu berubah menjadi sesuatu yang lebih baik, tetapi lebih sering berubah menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Orang yang benar-benar khawatir akan berupaya lebih sungguh-sungguh. Jadi, ... kawatirlah

Untuk itu, mohon maaf bila hal-hal yang dibahas berikut ini bisa mengganggu ketenangan anda. Meskipun sebetulnya, semakin anda merasa khawatir, semakin baik. Apakah ada orang yang lebih muda usianya daripada kita, tetapi lebih berhasil daripada kita?

  • Padahal dia datang dari lingkungan yang lebih sulit daripada lingkungan kita dulu.
  • Padahal kita telah diberikan banyak kesempatan oleh perusahaan untuk belajar dan membuktikan pemikiran dan janji-janji kita. Apakah kita tipe orang yang bersandar kepada kekayaan keluarga, dan menggunakannya untuk merendahkan orang yang lebih pandai daripada kita?
  • Padahal kita tahu bahwa kekayaan itu adalah kekayaan orang tua, yang bisa saja sebetulnya hanya penampilan luar dari sebuah kredit macet di bank yang belum sampai pada masa perhitungannya.
  • Padahal kita tahu bahwa bila bukan karena kita ini anaknya, orang dengan kualifikasi seperti kita tidak akan pernah diberikan ijin untuk melalui masa percobaan. Apakah pernah kita sadari bahwa anak buah kita itu adalah orang-orang yang mungkin lebih pandai daripada kita, tetapi hanya karena sopan santun, mereka mau mendengarkan celoteh tidak bermutu yang kita sampaikan dengan kesombongan karena pangkat kita lebih tinggi?
  • Padahal kita tahu bahwa kedudukan kita juga hanya sementara, tergantung dari kesukaan orang di atas kita, yang juga mungkin tidak bermutu, tetapi berwenang untuk mengangkat, mengganti, atau memberhentikan kita.
  • Padahal bila kita perhatikan dengan baik, anak buah kita juga bisa melihat bagaimana kita menyabarkan diri mendengar celoteh tidak bermutu dari atasan kita, karena kita hanya bawahan.
  • Padahal kita tahu bahwa kita tertawa untuk lelucon atasan kita yang tidak lucu, hanya karena kita bawahannya. Lalu, mengapa kita tidak melihat bahwa anak buah kita berlaku sama untuk lelucon kita yang tidak lucu? Apakah kita tidak merasa khawatir akan kecepatan maju rekan-rekan kita yang kurang bicara tetapi banyak bekerja?

Berlomba untuk menjadi yang paling banyak bicara bisa membuat kita naik pangkat, memang, bahkan mengalahkan orang yang benar-benar bekerja. Tetapi itu hanya berlaku di satu perusahaan saja. Orang-orang yang berpangkat tinggi karena hanya pandai bicara hanya bisa selamat selama masih berada di antara orang-orang yang telah lama mendapat perawatan kepalsuan darinya. Bila orang-orang itu berganti, maka dia harus memulai strategi kepura-puraannya dari awal.

Sedangkan orang-orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh, bila tidak dikenali dengan baik di perusahaan ini, akan dikenali baik oleh perusahaan-perusahaan lain. Tetapi tidak sama halnya dengan orang yang hanya banyak bicara.

Apakah kita semakin menua, tetapi belum mencapai sesuatu yang penting untuk diingat orang setelah kita pergi nanti? Tidak semua orang harus menjadi kaya, atau berkedudukan tinggi. Tidak banyak orang yang bisa membangun nama besar, atau yang bisa membangun klinik bagi yang sakit dan miskin. Tidak banyak orang yang bisa mencapai ketenaran karena menulis sebuah buku best seller, atau karena mencapai puncak Himalaya.

Memang tidak banyak orang seperti itu. Tetapi tidak semua orang kaya mempunyai pewaris yang baik dan hormat kepadanya. Tidak sedikit orang berkedudukan tinggi yang prihatin atas rendahnya kualitas anak-anaknya.

Tidak sedikit orang tenar yang dipermalukan oleh perilaku buruknya sendiri. Dan, tidak sedikit orang yang hebat dengan buku dan ceramahnya yang tidak bisa dicontoh perilakunya. Apakah kita termasuk orang-orang yang selalu menghibur diri sendiri dengan perkataan: "Rejeki orang itu lain-lain", saat melihat rekan kita mencapai keberhasilan lebih baik daripada kita?

  • Padahal sebetulnya kita iri.
  • Padahal sebetulnya kita bisa mencapai hal yang sama atau lebih baik, tetapi enggan untuk bekerja lebih keras hanya karena kita telah puas menjadi raja kecil.
  • Padahal sebetulnya kita merasa lebih rendah, dan kemudian harus menutupi rasa rendah diri itu dengan kesombongan seolah-olah tidak tertarik untuk menyamai keberhasilan orang lain.
  • Padahal keberhasilan rekan kita itu membuat kita sulit tidur di malam hari. Apakah kita termasuk orang-orang yang sudah merasa tidak perlu lagi untuk mengikuti training, seminar, atau ceramah untuk pengembangan diri?
  • Padahal kita khawatir akan perubahan semangat kerja dari rekan yang mengambil nilai baik dari pencerahan-pencerahan baru.
  • Padahal kita merasa ketinggalan saat kita tidak mengerti sebuah konsep baru yang disampaikan seorang rekan.
  • Padahal kita harus banyak melakukan akrobatik penyelamatan diri, saat anak buah atau kolega bertanya mengenai penerapan sebuah kosep baru untuk peningkatan hasil usaha.
  • Padahal kita pernah merasa lega karena bisa menyebutkan judul dari sebuah konsep baru, walaupun belum betul-betul mengerti. Apakah kita sering membanggakan keberhasilan kita sebagai keberhasilan pribadi sendiri?
  • Padahal tidak ada orang besar yang tidak pernah dibantu orang.
  • Padahal tidak ada ilmu yang kita miliki. Karena semua pengetahuan dibangun di atas pengetahuan sebelumnya, dan bahkan bila kita 'menemukan' sesuatu yang baru, akan selalu ada paralel dari konsep itu dalam disiplin ilmu yang lain.
  • Padahal bila kita berhasil, sebetulnya kita hanya diijinkan berhasil. Bila ijin itu kemudian ditarik, disebut apakah kita? Apakah kita termasuk orang-orang yang mudah memutuskan hubungan dengan orang lain?
  • Padahal seorang yang kuat adalah orang yang 'memiliki' paling banyak orang yang bisa membantunya.
  • Padahal kita memerlukan bantuan orang lain untuk bisa terus hidup, dan dengan bantuan yang kita berikan kepada orang itu-lah, kita mengharapkan bantuan kembali untuk kepentingan kita.
  • Padahal sebetulnya dunia ini akan tetap berjalan tanpa bantuan dari kita,atau bahkan tanpa kehadiran kita sekalipun.
  • Padahal sering kita alami keadaan di mana orang-orang yang kita benci justru sebenarnya adalah orang-orang yang paling bisa membantu kita.
  • Padahal tidak ada satu-pun orang mulia diturunkan dari langit yang tidak disediakan oleh-Nya, sahabat-sahabat untuk menjadi pendamping. Apakah kita termasuk orang-orang yang mati hatinya dari kesediaan untuk memaafkan?
  • Padahal kita juga tidak terbebas dari kemungkinan melakukan kesalahan kepada orang lain.
  • Padahal kita juga membutuhkan pemaafan dari orang lain atas kesalahan-kesalahan kita.
  • Padahal setelah dicermati, kita juga mempunyai peran penyebab dalam kesalahan yang dilakukan orang kepada kita.
  • Padahal mungkin penyesalan orang yang bersalah kepada kita itu, telah menyiksanya lebih pedih daripada luka yang dulu disebabkannya kepada kita. Mengapa?


Indo community

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback