Pages

Sunday, February 22, 2009

Papa paling hebat sejagat

Usianya 50 tahun waktu aku lahir, dan dia adalah "pak Ibu" bagiku. Aku tak tahu kenapa dia yang ada di rumah, bukannya mama, tapi aku masih kecil dan satu2nya di antara temanku yang masih memiliki ayah. Aku menganggap diriku sangat beruntung.

Papa melakukan banyak hal untukku selagi aku masih SD. Ia meyakinkan supir bis sekolah untuk menjemputku di rumah, bukannya di halte bis biasa yang enam blok jauhnya. Ia selalu sudah menyiapkan makan siang waktu aku pulang - biasanya roti pakai selai kacang dan jelly yang dibentuk sesuai dengan musimnya. Kesukaanku adalah waktu Natal, rotinya ditaburi gula hijau dan dipotong seperti bentuk pohon.

Ketika aku makin besar dan mencoba meraih kemandirianku, aku ingin menjauhi tanda cintanya yang "kekanak-kanakan" itu. Tapi, ia tak mau menyerah. Waktu aku masuk SMU dan tak lagi pulang untuk makan siang, aku mulai membawa makanan sendiri. papa bangun lebih pagi sedikit dan membuatkannya untukku. Aku tak pernah tahu apa yang dibuatnya. bagian luar kantungnya bisa ditutupi dengan lukisan gunung (yang menjadi ciri khasnya) atau sebuah hati yang ditulisi "Papa-n-Angie KK" di tengahnya. Di dalam pasti ada serbet bergambar hati yang sama atau tulisan "Papa sayang kamu". Sering kali ia menulis lelucon atau teka teki, seperti "Kenapa permen disebut popsicle, bukan momsicle? Ia selalu punya peribahasa konyol yang membuatku tersenyum dan membuatku tahu bahwa ia mencintaiku.

Aku biasa menyembunyikan makan siangku supaya tak ada orang yang melihat kantungnya atau membaca serbetnya, tapi itu tak berlangsung lama. Salah seorang temanku melihat serbetnya suatu hari, merebutnya, dan mengoperkannya ke seluruh ruang makan. Wajahku merah padam karena malu. Herannya, keesokan harinya semua temanku menunggu untuk melihat serbetnya. Dari cara mereka bertingkah, kurasa mereka semua ingin memiliki seseorang yang menunjukkan jenis cinta seperti itu kepada mereka. Aku bangga sekali akan papa. Selama bertahun-tahun berikutnya kala aku di SMU, aku menerima semua serbet itu, dan masih menyimpan sebagian besar dari semua serbet itu.

Dan itu masih belum usai. Waktu aku pergi dari rumah untuk kuliah (pergi yang paling akhir), kusangka pesan-pesan itu akan berhenti. Tapi, aku dan teman2ku merasa gembira karena kebiasaan papa terus berlanjut.

Aku rindu bertemu dengan papaku waktu pulang sekolah setiap hari, jadi aku sering meneleponnya. Rekening telponku jadinya cukup tinggi. Tidak peduli apa yang kami omongkan ; aku hanya ingin mendengar suaranya. Kami memulai suatu ritus pada tahun pertama itu dan terus berlanjut. Setelah aku mengucapkan salam, ia selalu berkata,

"Angie?"

"Ya,Pa?" aku menyahut

"Papa sayang kamu"

"Aku juga sayang papa"

Aku mulai mendapatkan surat hampir setiap hari jum'at. Staf di meja depan selalu tahu dari mana surat-surat itu berasal - alamat pengirim ditulis "Si Ganteng". Sering amplopnya ditulis dengan krayon, dan bersama surat itu ia biasanya melampirkan gambar kucing dan anjing kami, gambar dirinya dan mama, dan jika aku pulang akhir minggu sebelumnya, dilampirkan gambar aku sedang berjalan2 keliling kota bersama teman dan memakai rumah sebagai tempat perhentiannya. Ia juga menggambar lukisan gunung dan tulisan berlingkaran hatinya, Papa-n-Angie K.K

Surat itu dikirimkan tiap hari sebelum makan siang; jadi aku selalu membawa suratnya pada saat aku pergi ke kafetaria. Aku sadar bahwa menyembunyikan surat itu percuma saja karena teman sekamarku adalah teman se-SMU yang tahu tentang serbet papa. Sebentar saja, kebiasaan itu menjadi ritus jum'at siang. Aku membaca suratnya, lalu tulisan dan amplopnya dioper-operkan.

Pada masa inilah Papa diserang kanker. Waktu suratnya tidak tiba pad hari jum'at, aku tahu ia sakit dan tak sanggup menulis untukku. Ia biasa bangun jam 4 pagi supaya ia bisa duduk dalam rumah yang sepi dan menulis suratnya. Kalau ia absen mengirim hari jum'at, suratnya biasanya akan tiba sehari atau dua hari kemudian. Yang pasti, suratnya selalu tiba. Teman2ku biasanya memanggilnya "papa paling keren sejagat". Dan suatu hari mereka mengiriminya sebuah kartu, memberikan julukan itu, ditandatangani oleh mereka semua. Aku percaya ia mengajarkan pada kami segalanya tentang cinta seorang ayah. Aku tak akan kaget kalau teman2ku mulai mengirim serbet kepada anak2 mereka. Papa telah meninggalkan kesan yang akan tetap hidup bersama mereka dan memberikan inspirasi pada mereka untuk menyampaikan ungkapan cinta kepada anak2 mereka sendiri.

Selama empat tahun aku kuliah, surat dan telepon datang pada jangka waktu yang teratur. tapi, tiba saatnya waktu aku memutuskan untuk pulang dan menemaninya karena sakitnya semakin parah, dan aku tahu bahwa waktu kami untuk bersama2 memang terbatas. Itulah hari2 yang paling sulit kulalui. Melihat lelaki ini, yang selalu bertingkah begitu muda, bertambah tua melampaui usianya. pada akhirnya ia tak mengenali siapa aku dan akan memanggilku dengan nama saudara yang bertahun2 tak dilihatnya. Meskipun aku tahu itu karena penyakitnya, hatiku tetap sakit karena ia tak bisa mengingat namaku.

Aku sendirian dengannya di kamar rumah sakit dua hari sebelum ia meninggal. Kami berpegangan tangan dan menonton TV. Waktu aku bersiap untuk pergi, ia berkata,

"Angie?"

"Ya,Pa?"

"Papa sayang kamu"

"Aku juga sayang papa"


Angie K. Ward-Kucer

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback