(nice story) (chicken soup for the teeange soul II)
Katanya, semua orang memiliki kisah yang bisa meremukkan hati. Adikku Nicholas mengidap kanker. Rambutnya sudah rontok, dan ia begitu lemah sehingga sulit berjalan. Aku tak tahan lagi melihat rasa pedih dimatanya. Kenangan masa kecilnya bukanlah kenangan Natal, berkemah, atau mainan; kenangannya adalah kenangan ke rumah sakit, infus, dan transfuse darah.
Aku ingat saat semuanya dimulai, saat ia baru berusia tiga tahun. Mula-mula ia selalu mendapat memar yang buruk dan jelek. Kami tak menyangka apa-apa sampai memar itu mulai muncul di tempat-tempat aneh,seperti di ketiak atau kepala. Kemudian hidungnya sering berdarah, yang selalu saja terjadi. Ibuku selalu harus mengingatkan kami, "Jangan bermain-main dengan Nicholas; nanti hidungnya berdarah."
Bentuk kankernya adalah acute lymphatic leukemia (ALL), yang sangat bisa disembuhkan. Tujuh puluh persen anak-anak pengidap ALL berkurang penyakitnya dalam waktu setahun, dan dari anak-anak dalam kelompok ini,lima puluh persen tak pernah terjangkit lagi. jadi, peluang Nicky sangatlah baik.
la segera mulai menjalani kernoterapi, untuk mencegah bertambah parahnya kanker itu. Kemoterapinya berjalan baik, tapi sulit. Ia ke rumah sakit setiap hari Senin, Selasa, dan Rabu untuk pengobatan, lalu pulang selama sisa minggu itu, dalam keadaan sakit dan sama sekali tak berdaya. La tidak masuk TK tahun itu, tapi penyakitnya berkurang dalam Sembilan bulan, dan kami semua gembira.
Hidup kembali normal untuk beberapa lama, hingga suatu hari saat aku dikelas tiga SMP. Aku pulang sekolah dan tampak orangtuaku duduk di sofa. Ini kejadian aneh, karena orangtuaku tak pernah di rumah saat aku pulang. Tapi saat aku melihat air mata, aku tahu bahwa rasa takutku yang paling besar telah terjadi. Kanker itu datang lagi.
Usianya lima tahun saat itu dan penyakitnya sudah berkurang selama dua tahun. Kami semua menyangka ia telah berhasil menaklukkannya, tapi kemudian dokter menemukan tumor kanker di dadanya. Para dokter belum pasti seberapa besar tumor itu, jadi mereka menentukan tanggal operasi. Mereka akan membuat irisan kecil pada dadanya dan mengevaluasi tumor itu. jika mungkin, mereka akan mengangkatnya hari itu juga.
Pada hari operasi, kami semua bangun pagi untuk menemani Nicholas ke rumah sakit. Kami duduk di ruang tunggu B-3 yang sernuanya berwarna putih, "ruang kanker." Aku sudah terlalu sering berada di sana, aku tak tahan lagi.
Dalam dua tahun terakhir ini, aku sudah terlalu banyak melihat ruang ini, melihat buaian yang berisi bayi yang makin jarang dikunjungi ibunya, melihat anak-anak yang tahu mereka tak akan hidup lama. Bau kernatian yang membuat mual mengembang di setiap kamar, mengisahkan cerita lama tentang anak-anak yang hidupnya terpotong singkat oleh kanker yang membunuh.
Kami duduk dan serasa menunggu berabad-abad. Akhirnya, setelah empat jam, Dr. McGuiness, spesialis dokter kanker yang menangani Nicky, keluar dari pintu yang bertulisan OPERASI. la masih mengenakan pakaian operasinya saat ia mengisyaratkan agar kami mengikutinya, yang berarti kami perlu bicara. Saat kami duduk, rasa takut menyerang kami.
"Nicholas sudah selesai dioperasi sekarang, dan efek obatnya akan segera hilang," Dr. McGuiness memulai.
"Tapi saya menyesal," lanjutnya. "Tumornya sudah tumbuh terlalu besar. Tumor itu sudah memakan salah satu paru-parunya dan telah tumbuh di satu sisi jantungnya. Tak ada yang dapat kami lakukan sekarang."
Saat aku mendengar perkataan itu, air mataku mengembang. Perkataan itu berarti sudah waktunya berhenti berjuang karena kami tak akan menang. Aku memandang berkeliling dan aku tahu aku ingin pergi. Aku ingin lari jauh, jauh sekali, tapi aku tahu aku tak bisa melakukan hal itu. Itu tak akan membuat masalahnya lebih baik, dan itu tak akan menghidupkan Nicky.
Dokter itu pergi selama sepuluh menit supaya kami dapat menenangkan diri. Saat ia kembali, ia bertanya apakah kami ingin Nicholas menghabiskan sisa hari-harinya di rumah sakit atau di rumah. Kami ingin Nicholas pulang.
Beberapa bulan berikutnya kami sungguh tersiksa, harus melihat Nicky makin sakit dan lemah. Seraya tumor itu tumbuh, Jantungnya berhenti berdenyut secara teratur dan ia sering tersengal-sengal.
Musim panas berlalu lebih cepat dari seharusnya. Kesehatan Nicholas tetap stabil, meskipun tetap sangat rapuh. Kami bahkan bisa berjalan-jalan ke Disneyland, Permintaan Nicky yang Terakhir. Tapi sulit sekali mencoba gembira untuknya, karena kami tahu bahwa itulah liburan kami yang terakhir sebagai keluarga.
Dengan berlalunya waktu, kesibukan masa liburan menyibukkan kami. Hallowen sungguh menyenangkan dan makan malam thanksgiving terasa lezat. Lalu, saat kami mulai bersiap untuk merayakan Natal, kesehatan Nicky memburuk.
Pada suatu hari, saat sernua orang sedang menghias pohon Natal, aku masuk kamar untuk menjenguk Nicholas, yang sedang duduk di kursi. Lampu Natal dengan indah menerangi wajahnya dan memunculkan gernerlap lugu yang sudah lama tak kami lihat.
Saat aku mendekatinya, kusadari bahwa ia sedang menangis. Aku duduk dikursi bersamanya dan memeluknya seperti yang kulakukan saat ia masih kecil.
"Nicky, katakanlah mengapa kau menangis," kataku.
"Kak, ini tidak adil," ia berkata terbata-bata.
"Apa yang tidak adil?" tanyaku.
"Kenapa aku akan mati?"
"Kau kan tahu semua orang akan mati," jawabku, jelas-jelas menghindari topik itu. Aku tidak ingin ia tahu, dan jauh di lubuk hati aku juga tak ingin tahu.
Tapi tidak seperti aku. Kenapa aku harus mati? Kenapa begitu cepat? Lalu ia mulai menangis. Ia membenamkan kepalanya didadaku, dan aku mulai menangis juga. Kami duduk seperti itu untuk waktu yang lama sekali. Waktu yang sangat lama, sepi dan mengerikan. Setelah itu, ada kesepahaman di antara kami. la siap, begitu pula aku. Kami dapat mengatasi apa pun sekarang.
Di bulan januari, ia mengalami koma dan. kami tahu kami akan kehilangan dirinya. Pada suatu hari kami duduk menggenggam tangannya, karena kami tahu itulah untuk terakhir kalinya ia-bersama kami. Tiba-tiba ada rasa damai yang mengisi ruangan itu, dan aku tahu Nicholas telah mengembuskan napas terakhirnya.
aku melihat keluar. Salju yang baru turun entah kenapa tampak lebih cerah. Aku membenci diriku karenanya, tapi tiba-tiba aku merasa lebih baik. Semua rasa pedih dan sedih beberapa tahun terakhir ini sudah hilang, dan aku tahu nicholas telah aman. Ia tak lagi takut atau sakit,dan lebih baik begini.
Nicole Rose Patridge
_______________________________________________
If we want a love message to be heard, it has to be sent out.
To keep a lamp burning, we have to keep putting oil in it.
***********************************************
Fatin Shidqia Lubis - Aku Memilih Setia
12 years ago
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback