From: "Herry Yanto"
"Seperti kaidah dasar dalam dunia Marketing, dalam melakukan pemberian pun kita harus menerapkan prinsip Customer-Oriented." Seorang teman mengungkapkan kekecewaannya dengan sopir pribadinya. "Masa,dia saya belikan televisi baru malah di jual!" katanya, "Maksud saya kan baik. Saya memberinya sebagai penghargaan karena sudah sekian tahun bekerja di tempat saya. Lagi pula saya kasihan sama anak-anaknya, karena selama ini mereka nonton teve di tetangga!"
Saya mengangguk-angguk, mencoba memahami kekesalan rekan itu sambil kemudian bertanya, "Kamu tahu alasanya, kenapa ia menjual televisinya?"
"Ah males! saya tahu pun dari isteri saya," jawabnya masih dengan nada tinggi sambil ngeloyor pergi untuk mengambil minuman.
Ada banyak orang yang begitu kecewa ketika pemberiannya tidak diperlakukan sebagaimana mestinya. Dalam kasus yang mirip cerita teman saya di atas, ada seorang teman lain yang juga jengkel karena ia pernah memberikan sepatu boot plastik untuk tukang sampah di kompleks perumahannya, sama sekali tidak pernah dipakai. Atau seeorang ibu akan marah besar ketika baju yang ia belikan untuk anak kesayangannya ternyata tidak pernah mau dipakainya.
Kadangkala kita memberikan sesuatu kepada orang lain bukan karena mereka membutuhkannya, melainkan karena kita menginginkan orang lain menerima pemberian kita itu untuk sekedar memuaskan ego kita sendiri. Dalam kasus tukang sampah di atas, teman saya itu menganggap bahwa tukang sampah itu perlu sepatu supaya kakinya tidak kotor, padahal konsep kotor dalam pemikiran tukang sampah itu tentulah "berbeda" dengan apa yang dipahami rekan saya.
"Habitat" mereka kan memang berbeda. Tukang sampah itu lebih nyaman tanpa alas kaki, karena lebih leluasa dan sudah terbiasa. Demikian pula, dalam contoh seorang ibu di atas, kebanyakan memang lebih karena ibu itu kepengin anaknya berdandan dengan seleranya, bukan karena si anak memerlukan atau ingin berdandan dengan baju pemberian itu.
Beberapa hari kemudian saya bertemu dengan rekan yang pertama di atas, dan ketika saya singgung apakah dia masih marah dengan sopirnya, ia mengatakan,"Nggak, ternyata televisi itu ia jual untuk bayar tunggakan uang sekolah anaknya dan ia nggak mau kebebanan biaya listrik tambahan, disamping ia takut anak-anaknya berubah pola belajarnya karena ada televisi di rumah kontrakannya."
Dalam hati saya mengangguk-angguk mengakui kewajaran logika sopir rekan saya itu. Saya juga semakin yakin, bahwa dalam hal memberi pun kita harus mempunyai prisip cusomer-oriented ... dalam mata kuliah Marketing yang pernah saya ambil.
0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Telah Memberikan Waktu dan Komentarnya
Thanks for your feedback